jateng.jpnn.com, SEMARANG - Sebanyak 160 bencana tercatat di Kota Semarang, Jawa Tengah, sepanjang 2025. Tanah longsor menjadi bencana yang paling mendominasi di Ibu Kota Jawa Tengah ini.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang Endro Pudyo Martanto mengatakan sebaran kejadian longsor masih didominasi wilayah perbukitan.
Sejumlah wilayah dengan kejadian longsor terbanyak, antara lain Kelurahan Candisari Kecamatan Candisari; Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan; Kelurahan Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur; Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang; serta Kelurahan Sadeng, Kecamatan Gunungpati.
“Wilayah-wilayah ini menjadi perhatian utama untuk upaya mitigasi ke depan,” ujar Endro, Selasa (6/1).
Selain tanah longsor, BPBD Kota Semarang juga mencatat bencana rumah roboh menempati urutan kedua terbanyak sepanjang 2025. Dari total 79 kejadian rumah roboh, sebanyak 27 rumah mengalami kerusakan akibat tertimpa pohon tumbang.
“Sekitar 40 kejadian lainnya disebabkan oleh longsor. Sisanya akibat faktor usia bangunan yang sudah lapuk dan beberapa karena puting beliung,” kata Endro.
Dalam catatan BPBD, terdapat sembilan korban meninggal dunia akibat bencana sepanjang tahun lalu. Mayoritas korban meninggal dunia disebabkan oleh insiden kebakaran.
“Korban meninggal paling banyak akibat kebakaran. Ada tiga korban dalam satu kejadian karena peristiwa terjadi pada malam hari saat korban sedang tertidur,” ujarnya.



















































