jpnn.com, JAKARTA - Pengamat transportasi Djoko Setijowarno memprediksi mudik Lebaran 2026 sebagai kebutuhan kultural tidak akan turun drastis, meskipun daya beli masyarakat sedang menghadapi tekanan akibat inflasi atau penyesuaian subsidi.
Menurut dia, jika pada Natal dan Tahun Baru (Nataru) masyarakat cenderung menahan diri karena faktor cuaca ekstrem di akhir tahun atau persiapan biaya sekolah semester genap.
Tetapi pada Lebaran 2026 pergerakan akan didorong oleh pencairan THR dan tradisi tahunan yang lebih kuat.
"Prediksi mobilitas mudik lebaran 2026 di tengah kondisi ekonomi saat ini menunjukkan fenomena mudik tetap jalan, dompet tetap perhitungan," ujar Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat itu dikutip Senin (19/1).
Djoko memprediksi mudik Lebaran 2026 akan tetap menjadi puncak pergerakan manusia terbesar di Indonesia, berbeda dengan kondisi Nataru 2025/2026 yang terasa melambat di beberapa titik.
Menurut dia, Natal dana Tahun Baru bersifat opsional dan lebih ke arah wisata, sedangkan mudik Lebaran adalah kewajiban kultural dan religius yang sifatnya non-negosiasi bagi mayoritas penduduk.
Dia mengatakan, kelancaran pada saat Nataru 2025/2026 belum tentu akan berlanjut di kegiatan mudik Lebaran 2026 mengingat perilaku perjalanan keduanya berbeda.
"Musim Nataru kebanyakan berwisata dan pengguna sepeda motor antar kota jarak jauh cenderung sangat rendah," ujar dia.






















































