jatim.jpnn.com, SURABAYA - Upaya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah kini diarahkan pada pendekatan berbasis data dan pemetaan relasi sosial antar siswa. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibanding penanganan yang baru dilakukan setelah kasus terjadi.
Gagasan tersebut mengemuka dalam workshop nasional yang digelar Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Surabaya bersama Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin (12/1), di Gedung Unusa Tower. Kegiatan ini diikuti guru SD hingga SMA se-Kota Surabaya.
Workshop tersebut menekankan pentingnya analisis sosiometri sebagai alat deteksi dini perundungan di sekolah. Melalui pemetaan hubungan sosial siswa, guru diharapkan mampu mengenali potensi masalah sebelum berkembang menjadi kekerasan.
Rektor Unusa Prof Tri Yogi Yuwono menilai sekolah merupakan ruang mikrososial yang kompleks dan membutuhkan pendekatan ilmiah dalam pengelolaannya. Menurutnya, selama ini banyak kasus perundungan ditangani secara reaktif.
“Penanganan sering dilakukan setelah ada laporan. Padahal, dengan data kita bisa membaca tanda-tanda lebih awal,” ujarnya.
Dia menjelaskan sosiometri memungkinkan sekolah mengidentifikasi siswa yang terisolasi secara sosial maupun siswa yang memiliki dominasi negatif di lingkungannya. Kondisi tersebut kerap menjadi cikal bakal terjadinya perundungan.
“Guru tidak hanya bertugas menyampaikan pelajaran, tetapi juga memastikan tidak ada anak yang terpinggirkan di sekolah,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Dr HA Sruji Bahtiar menekankan pentingnya pembentukan hati dan mentalitas siswa. Dia menyebut perundungan berawal dari cara berpikir yang keliru dan dibiarkan berulang.



















































