jpnn.com, KUDUS - Sebanyak 562 pemanah muda dari berbagai wilayah di Jawa Tengah memadati Supersoccer Arena, Kudus, untuk berkompetisi dalam ajang MilkLife Archery Challenge 2026 Seri 1.
Turnamen yang berlangsung sejak Kamis (30/4) hingga Sabtu (2/5) ini menjadi wadah kompetitif bagi ratusan siswa SD dan SMP untuk memperebutkan gelar juara di berbagai kategori.
Tahun ini para peserta turnamen yang diinisiasi oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife tersebut terbagi dalam lima kategori, di antaranya Nasional U-10, Nasional U-13, Nasional U-15, PVC U-10 dan PVC U-13. Mereka berkompetisi secara individu dan beregu untuk mengharumkan nama sekolah masing-masing di podium tertinggi.
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin mengatakan MilkLife Archery Challenge 2026 Seri 1 kembali digelar sebagai wadah kompetisi bagi atlet-atlet panahan usia dini untuk mengembangkan kemampuan dan menambah pengalaman bertanding.
Turnamen ini sekaligus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Bakti Olahraga Djarum Foundation dalam mendukung pembinaan atlet muda di nomor panahan, khususnya pada kategori U-10, U-13, dan U-15. Dengan pengalaman bertanding yang terus terasah, para atlet muda potensial dari berbagai daerah memiliki bekal untuk berkembang dan meningkatkan prestasi di masa mendatang.
“Ajang kompetisi seperti ini memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan proses pembinaan atlet usia dini. Kami ingin memastikan para atlet mendapatkan kesempatan bertanding secara konsisten, sehingga aspek teknik, mental bertanding, dan rasa percaya diri mereka dapat tumbuh secara optimal. MilkLife Archery Challenge tidak hanya berfungsi sebagai arena kompetisi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran bagi para atlet muda untuk berkembang. Harapannya, dari turnamen ini dapat lahir lebih banyak pemanah muda yang mampu berprestasi dan mengharumkan nama daerah maupun Indonesia,” ucap Yoppy.
Ketua Panitia Pelaksana MilkLife Archery Challenge Seri 1 2026, Vera Eka Wardani menyebut cakupan usia peserta yang kian meluas semakin memperkuat ekosistem olahraga panahan di level grassroot. Di sisi lain, menurut Vera, para peserta berlaga dalam atmosfer yang kompetitif dengan menunjukkan ketepatan membidik, ketenangan serta mental sportivitas tinggi.
“Pada seri ini kami telah menyesuaikan dengan peraturan PB Perpani yakni menggunakan kategori umur ‘Under’ sehingga lebih banyak atlet usia dini yang berpartisipasi. Harapannya agar semakin menumbuhkan kecintaan siswa pada olahraga panahan yang nantinya akan memperkuat keberlangsungan ekosistem olahraga panahan. Dengan demikian, ke depan dapat tercipta regenerasi atlet panahan yang berkualitas dan mampu berkontribusi bagi prestasi Indonesia, karena sudah ditempa dengan turnamen yang kompetitif seperti MilkLife Archery Challenge sejak dini,” terang Vera.






















































