jpnn.com - JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri Indonesia serta pemerintah menyatakan bahwa ketahanan pangan menjadi prioritas utama.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ketahanan pangan merupakan isu strategis di tengah volatilitas global yang makin tinggi.
“Maka dari itu, Indonesia harus mandiri secara pangan agar memiliki resiliensi dalam menghadapi krisis apa pun,” kata Airlangga.
Dia menyampaikan itu saat diskusi Road to Jakarta Food Security Summit (JFSS) 2026 bertajuk Ketahanan Pangan untuk Menjaga Kedaulatan Bangsa di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Selasa (13/1).
Forum diskusi yang diprakarsai Kadin Indonesia bekerja sama dengan Katadata ini, digelar sebagai respons atas dinamika global yang kian kompleks, mulai dari krisis pangan dan energi, ketegangan geopolitik, hingga dampak perubahan iklim yang secara nyata menekan sistem pertanian dan pangan global, termasuk di Indonesia.
Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah menetapkan sektor pertanian dan pangan sebagai prioritas nasional.
Dia mencatat produksi beras Indonesia 2025 mencapai 34,71 juta ton, salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah dengan lonjakan produksi 3,52 juta ton.
Di sisi lain, inflasi pangan tercatat 6,21 persen, tetapi diiringi dengan peningkatan nilai tukar petani (NTP) yang mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.






















































