jpnn.com, JAKARTA - Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima) Robert Winerungan menilai penggunaan B50 mampu menghemat impor solar dan memberikan keuntungan besar bagi perekonomian.
“Sebagian besar cadangan devisa habis untuk impor BBM dan bayar utang. Sekarang kalau BBM itu, solar tidak impor lagi, yang Rp 170 triliun itu devisa hemat besar sekali,” kata Robert, Sabtu (15/8).
Menurut Robert, manfaat penghematan devisa tersebut dapat meluas apabila ruang yang tercipta digunakan untuk memperkuat kemampuan teknologi Indonesia.
Penguasaan teknologi dinilai dapat meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi, sehingga produk-produk nasional semakin kompetitif dibandingkan produk negara lain.
Dia juga melihat meningkatnya pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biodiesel dapat menciptakan kepastian permintaan yang pada akhirnya membantu menjaga penjualan dan stabilitas harga komoditas tersebut.
Robert pun mengapresiasi kinerja positif Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang bisa dengan cepat mengeksekusi perintah presiden terkait swasembada energi.
“Jadi devisa tidak terkuras dan kalau devisa itu terpakai untuk alih teknologi, itu akan membuat Indonesia lebih maju lagi,” ujarnya.
Besarnya manfaat B50 bagi ketahanan energi juga tergambar dalam kajian pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti.






















































