jatim.jpnn.com, MALANG - Air mata tak terbendung dari wajah Iis Kurniawati (42) saat menceritakan perjuangannya menuju Tanah Suci.
Guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Malang itu sempat berada di titik terendah. Tabungan haji yang dia kumpulkan bersama suaminya Achmad Zenurofik tak cukup untuk pelunasan.
“Kalau dihitung logika, enggak mungkin. Kebutuhan besar, sedangkan penghasilan terbatas,” kata Iis Kurniawati saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Sukolilo, Senin (27/4).
Sejak 2012, Iis sudah bertekad mendaftar haji meski kondisi ekonomi pas-pasan. Dengan gaji sekitar Rp2 juta saat itu, dia memanfaatkan dana talangan agar bisa mendapatkan porsi keberangkatan.
"Kebetulan tahun 2012 itu ada dana talangan haji sehingga itu mempermudah
Awalnya, dia dijadwalkan berangkat pada 2022. Namun, pandemi COVID-19 membuat jadwalnya mundur hingga 2027.
Penundaan itu sempat membuatnya pasrah. Tabungan haji pun dialihkan untuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya yang mulai kuliah.
Tak disangka, panggilan haji justru datang lebih cepat pada 2026. Alih-alih bahagia, Iis justru dilanda kepanikan.












.jpeg)





































