jpnn.com, JAKARTA - Perayaan Harmoni Imlek Nusantara berlangsung meriah di Restaurant Empurau Jakarta pada Minggu (15/2) lalu.
Suara tetabuhan gendang, simbal, dan tambur yang membahana menandai dimulainya acara tersebut.
Perhelatan yang digelar oleh Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili itu menjadi sebuah refleksi mendalam atas kekayaan budaya bangsa.
Harmoni Imlek Nusantara dibuka dengan atraksi Barongsai dan Wushu itu, disusul dengan keelokan tari Bian Lian (face changing dance). Uniknya, penampilan penyanyi lagu-lagu Mandarin berpadu mesra dengan alunan biola dan kearifan lokal dentingan sasando menciptakan simfoni yang merayakan keberagaman.
Dalam sambutannya, Kepala BKN PDI Perjuangan, Once Mekel, membawa hadirin kembali ke 2002. Dia mengingatkan peran besar Megawati Soekarnoputri, yang menetapkan Imlek sebagai Hari Libur Nasional.
Selain itu, pemilik album Sigma itu juga memaknai langkah penting Presiden Ke-5 Republik Indonesia tersebut sebagai sebuah 'deklarasi kebudayaan'.
"Deklarasi bahwa budaya Tionghoa yang sudah ratusan tahun di Nusantara adalah budaya Indonesia juga, budaya Tionghoa adalah kekayaan Nusantara," ungkap Once Mekel dalam keterangan resmi.
Penyanyi berusia 55 tahun itu menilai, dengan demikian, negara mengakui bahwa budaya dan peran etnis Tionghoa adalah bagian tidak terpisahkan dari eksistensi NKRI.
"Kedua, identitas Tionghoa adalah salah satu elemen pembentuk jati diri bangsa kita. Dan, peran etnis Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan masa depan NKRI," lanjut Once Mekel menafsirkan makna penetapan Imlek sebagai hari libur nasional.


















































