jpnn.com, PEKANBARU - Tingkat kriminalitas di Kota Pekanbaru menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan sejak awal Januari 2026.
Dalam rentang waktu 1–12 Januari, tercatat sedikitnya belasan kasus kejahatan jalanan dan pencurian (C3) terjadi hampir setiap hari, bahkan beberapa kali dalam satu hari di lokasi yang berbeda.
Pengamat publik, Dr. M. Rawa El Amady, menilai kondisi ini tidak terlepas dari posisi strategis Pekanbaru sebagai kota perdagangan dan kota lintas antarprovinsi hingga antarnegara.
“Pekanbaru ini adalah daerah perdagangan, kota lintas antarprovinsi dan kabupaten, sekaligus pusat administrasi perusahaan yang beroperasi di luar daerah. Kondisi ini secara otomatis diikuti oleh lalu lintas kejahatan, bahkan lintas negara,” kata Rawa, Jumat (23/1).
Menurutnya, Pekanbaru kerap menjadi pintu keluar-masuk pelaku kejahatan, termasuk kejahatan internasional yang menjadikan kota ini sebagai tempat mencari modal sebelum beroperasi ke luar negeri.
Namun demikian, dia menilai sistem keamanan yang ada saat ini belum dirancang berdasarkan kondisi objektif Pekanbaru sebagai kota perdagangan dan kota lintas.
“Sistem keamanan yang dirancang oleh pemerintah kota, Polda, dan Polresta masih belum menjawab persoalan riil di Pekanbaru. Ini terlihat dari maraknya kejahatan yang terjadi hampir setiap hari,” tegasnya.
Dr. Rawa mendesak Polresta Pekanbaru, dan Wali Kota untuk segera merancang sistem keamanan terpadu yang melibatkan masyarakat hingga tingkat RT.






















































