jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Meski mencatatkan tren positif dalam lima tahun terakhir, perbankan syariah di Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk menjadi pilihan utama masyarakat. Masalah permodalan dan keterbatasan layanan (sisi suplai) dinilai menjadi faktor utama yang menghambat akselerasi sektor ini.
Mengacu pada laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025, Indonesia saat ini menduduki peringkat ketiga dalam ekonomi syariah global, berada di bawah Malaysia dan Arab Saudi.
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, peran bank syariah sebagai motor penggerak ekonomi syariah tanah air perlu diperkuat.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu mengungkapkan bahwa kontribusi bank syariah telah mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan.
Pada 2022 kontribusi berada di angka 5 persen, tetapi awal tahun ini telah mencapai 9 persen.
"Sudah terjadi kenaikan yang cukup besar dari sisi kontribusi. Namun, idealnya harus masuk ke angka 20 persen supaya bank syariah bisa berperan lebih maksimal," ujar Anggito usai diskusi Navigasi Ekonomi Syariah 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (28/2).
Anggito menyoroti bahwa kendala utama selama ini terletak pada sisi suplai. Menurutnya, skala bisnis dan modal yang terbatas membuat bank syariah kesulitan dalam memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat.
"Masalahnya suplainya masih kurang, bisnisnya masih kurang, tetapi kan tidak bisa dipaksakan. Jadi, memang harus pelan-pelan," jelas Guru Besar Universitas Gadjah Mada tersebut.

















































