bali.jpnn.com, DENPASAR - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali melaporkan penyaluran kredit perbankan di Pulau Dewata per Februari 2026 mencapai Rp119,75 triliun.
Angka tersebut tumbuh sebesar 6,47 persen jika dibandingkan periode sama 2025 mencapai Rp112,45 triliun.
Kepala OJK Bali Parjiman menjelaskan pertumbuhan kredit tersebut masih didorong oleh peningkatan kredit investasi yang tumbuh sebesar Rp6,32 triliun atau 17,81 persen.
Kredit investasi tersebut utamanya ditopang oleh sektor pariwisata, yakni penyediaan akomodasi dan makan minum serta real estate.
“Peningkatan pada kredit investasi menunjukkan kontribusi perbankan dalam mendukung pembiayaan ekspansi usaha untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” kata Parjiman dilansir dari Antara.
Berdasar kategori debitur sebesar 51,32 persen kredit di Bali disalurkan kepada pelaku UMKM yang tumbuh 4,71 persen dan didominasi oleh segmen usaha mikro dengan porsi sebesar 42,17 persen dan usaha kecil sebesar 37,43 persen.
Apabila mencermati permodalan, perbankan di Bali tergolong masih kuat meski terjadi krisis geopolitik di Timur Tengah yang mulai berkecamuk pada akhir Februari 2026.
Dari sisi rasio likuiditas (CR) bank perekonomian rakyat (BPR) di Bali mencapai 14,74 persen, jauh di atas batas minimal yaitu delapan persen.















.jpeg)



































