Kualitas Udara Jakarta Masuk 6 Terburuk Dunia, DKI Kejar Peralihan ke Transportasi Publik

11 hours ago 15
Dokumentasi - Pemandangan Monumen Nasional dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Senin (29/7/2019). Foto: ANTARA

KabarJakarta.comKualitas udara Jakarta pada Kamis pagi, 13 Agustus 2026, kembali menjadi perhatian. Berdasarkan pemantauan situs IQAir pada pukul 06.00 WIB, Jakarta berada di peringkat keenam sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta tercatat 156. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, sehingga masyarakat dianjurkan lebih berhati-hati, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.

Dalam kondisi tersebut, penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan polusi udara. Warga juga dapat mempertimbangkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan.

Jakarta berada di bawah beberapa kota lain yang mencatat kualitas udara lebih buruk. Kota dengan AQI tertinggi adalah Uganda dengan angka 209. Posisi kedua ditempati Kuching, Malaysia, dengan AQI 176, sedangkan Lahore, Pakistan, berada di posisi ketiga dengan angka 173.

Di tengah persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan polusi udara. Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah memperluas layanan transportasi umum, khususnya bus Transjabodetabek.

Sejumlah rute telah dikembangkan untuk memberikan alternatif bagi masyarakat agar tidak selalu menggunakan kendaraan pribadi. Rute tersebut antara lain Blok M-Alam Sutera dan Blok M-PIK 2. Pemprov DKI juga menyiapkan rute baru yang menghubungkan Blok M dengan Bandara Soekarno-Hatta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengajak masyarakat memanfaatkan transportasi publik yang telah disediakan pemerintah. Pemprov DKI bahkan telah menetapkan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat.

Menurut Pramono, peningkatan penggunaan transportasi umum penting karena sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas buang di Jakarta. Saat ini, sektor tersebut diperkirakan menyumbang sekitar 50 persen emisi gas buang di Ibu Kota.

Karena itu, Pemprov DKI menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030. Peralihan tersebut diharapkan dapat mengurangi emisi yang berasal dari kendaraan bermotor.

“Kalau hal itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi,” ujPramono saat menghadiri Townhall Meeting yang membahas isu dan solusi mengatasi polusi udara di Melting Pop, M Bloc, Kebayoran Baru, Selasa (10/2).

Selain transportasi, Pemprov DKI juga menaruh perhatian pada sektor pengelolaan sampah. Pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF) di sejumlah lokasi, yakni Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.

Fasilitas tersebut ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini. Pemerintah berharap pengolahan sampah yang lebih baik dapat ikut menekan emisi yang dihasilkan dari sektor persampahan.

“Kalau itu bisa dilakukan, maka kontribusi signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta,” terang Pramono.

Di sisi lain, konektivitas transportasi Jakarta saat ini disebut telah mencapai 92 persen. Capaian tersebut menempatkan Jakarta di posisi ke-17 dunia dan peringkat kedua di ASEAN setelah Singapura.

Peningkatan konektivitas dan penggunaan kendaraan listrik menjadi bagian dari upaya jangka panjang Pemprov DKI dalam mengurangi polusi. Namun, perbaikan kualitas udara juga membutuhkan partisipasi masyarakat, terutama dengan beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum ketika memungkinkan.

Read Entire Article
| | | |