jogja.jpnn.com, WONOGIRI - Sore itu, Minggu 26 April 2026, langit di atas Dusun Nglancing, Desa Watangrejo, tampak cerah dan bersahabat. Di lapangan Karang Taruna Dwi Manunggal, ratusan warga dari berbagai desa di Kecamatan Pracimantoro berkumpul. Mereka tidak membawa spanduk kemarahan, melainkan encek. Wadah dari pelepah pisang yang berisi nasi gudhangan dan tahu tempe bacem.
Itulah pemandangan Genduren Gunungsewu. Ritual doa bersama dan kirab itu diinisiasi oleh Paguyuban Talijiwo, sebuah perkumpulan warga yang dengan tegas menyatakan diri menolak rencana pembangunan dan penambangan pabrik semen di Desa Watangrejo, Suci, Gambirmanis, Joho, Sambiroto, dan Petirsari.
Bagi warga, kegiatan yang sudah memasuki tahun kedua itu bukan sekadar syukuran biasa. Genduren Gunungsewu adalah simbol perlawanan sunyi, tetapi tegas terhadap rencana pendirian pabrik semen yang mengancam tanah kelahiran mereka.
Dongeng Pedas Negeri Poco-Poco
Di tengah kerumunan orang yang bersila, sebuah gulungan gambar mulai dibentangkan. Faris Wibisono, seorang dalang muda bersiap memulai lakonnya.
Namun, ada yang ganjil dari piranti yang ia gunakan. Wayang yang ia pegang tidak berkilau keemasan layaknya kulit kerbau berkualitas tinggi. Wayang itu tampak kusam, terbuat dari material yang tak lazim: sandal jepit bekas dan limbah plastik.
Wayang Beber yang ditampilkan saat Genduren Gunungsewu. Foto: Januardi/JPNN
Lakon yang dibawakan Faris sore itu berjudul “Mata Air dalam Kemasan”. Ia bercerita tentang Desa Umbul Mungkret di Negeri Poco-Poco.
Sebuah desa yang semula damai, tiba-tiba kedatangan sosok investor perlente bernama Bapak Durjono dari PT Tirto Durjono. Dengan janji-janji manis tentang kemajuan desa dan lapangan pekerjaan, Durjono merayu pimpinan desa yang silau akan harta.












.jpeg)





































