jatim.jpnn.com, SURABAYA - Aksi penolakan relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke Tambak Osowilangun mulai berdampak ke pasar tradisional. Sejumlah pedagang daging sapi di Surabaya terpaksa mencari pasokan ke luar kota setelah distribusi dari RPH Pegirian tersendat akibat mogok kerja para jagal.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Umik Wahid (71) pedagang daging sapi di Pasar Tambahrejo, Surabaya. Dia mengaku sudah beberapa hari tidak lagi mengambil daging dari RPH Surabaya karena pasokan tidak tersedia.
“Kalau menunggu dari RPH, saya tidak bisa jualan,” kata Umik, Rabu (14/1).
Biasanya, Umik mengambil sekitar satu kuintal daging sapi setiap hari dari RPH Surabaya untuk dijual dengan harga Rp120 ribu per kilogram. Namun, sejak distribusi terganggu, dia memilih mencari daging dari luar daerah agar tetap bisa berjualan.
“Sekarang ambilnya dari Krian, Kedurus, kadang juga dari Madura. Yang penting ada barang,” ujarnya.
Untuk menekan biaya dan memudahkan distribusi, Umik kerap menitip pembelian kepada kerabatnya yang juga berprofesi sebagai pedagang daging. Cara itu dilakukan agar pasokan tetap lancar meski harus didatangkan dari lokasi yang lebih jauh.
Menariknya, harga daging dari luar kota justru dinilai lebih murah dibandingkan RPH Surabaya. Menurut Umik, harga daging di Kedurus dan Krian berkisar Rp96 ribu per kilogram, sementara dari RPH Surabaya bisa mencapai Rp110 ribu per kilogram.
“Walaupun ditambah ongkos, tetap lebih murah ambil dari luar,” ungkapnya.



















































