jpnn.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons lonjakan harga minyak dunia yang sempat menyentuh level USD 82 per barel.
Kenaikan harga tersebut dipicu pecahnya konflik bersenjata di wilayah Iran.
Airlangga menilai eskalasi pertempuran tersebut secara langsung memberikan dampak negatif terhadap kestabilan distribusi serta pasokan energi internasional.
"Ya pertama tentu kalau Iran sudah pasti yang terganggu adalah supply minyak," kata Airlangga di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (2/3).
Airlangga menjelaskan gangguan tersebut disebabkan terhambatnya jalur pengiriman utama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Selain itu, kondisi keamanan di wilayah perairan lain juga turut memberikan tekanan pada rantai pasok global yang saat ini tengah dipantau pemerintah.
"Dan supply minyak itu, karena Selat Hormuz, kan, terganggu, belum juga red sea. Jadi, kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlaku," tuturnya.
Guna menghadapi ancaman krisis energi, Airlangga memastikan pemerintah telah menyusun sejumlah langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan stok minyak nasional.




















































