jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Rencana revitalisasi atau penataan ulang kawasan Gedung Sate, menjadi sorotan banyak pihak. Proyek yang memakan anggaran Rp15 miliar itu bakal menggabungkan Lapangan Gasibu - Jalan Diponegoro dengan ikon Jawa Barat itu.
Pengamat Tata Kota Institut Teknologi Bandung (ITB), Frans Ari Prasetyo menyoroti rencana Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi itu.
Frans mengatakan, penyatuan akses tersebut tidak diperlukan. Sebab, tidak ada urgensi tertentu yang kemudian membuat kedua fasilitas itu harus digabungkan dan justru menghilangkan sebagian akses jalan.
Terlebih kedua tempat ini merupakan entitas berbeda dengan sejarah masing-masing.
"Walaupun dalam kawasan yang sama, tapi Gedung Sate dan Gasibu itu memiliki sejarah masing-masing. Dan memang tidak ada urgensi apapun dalam menyatukan kedua tempat tersebut," kata Frans, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, keinginan menyatukan dua tempat ini bukan atas dorongan publik, sehingga hanya jadi ego dari seorang pemimpin. Dedi Mulyadi sudah merasa memiliki kawasan ini sehingga dia ingin melakukan hal sesukanya tanpa dasar yang jelas.
"Sekarang katanya anggaran terbatas, ada efisiensi, tapi malah menghaburkan anggaran dengan proyek tersebut," tegasnya.
Meski lahan ini di bawah naungan Pemprov Jabar, tapi kedua tempat dan jalan Dipenogoro berada di Kota Bandung. Artinya Pemkot Bandung pun memiliki rencana detail tata ruang (RDTR) yang mungkin berbeda dengan niatan Dedi Mulyadi untuk merubah akses di jalan tersebut.


















































