jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Memperingati Hari Hemofilia Sedunia yang jatuh pada 17 April 2026, pakar kesehatan mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap ciri-ciri fisik yang muncul pada anak. Di Indonesia, banyak kasus hemofilia baru terdeteksi setelah pasien mengalami insiden perdarahan hebat yang sulit dikendalikan.
Hemofilia adalah penyakit genetik yang menyebabkan darah sulit membeku secara normal. Kondisi ini terjadi karena tubuh kekurangan protein pembeku darah. Akibatnya, penderita akan mengalami perdarahan yang lebih lama dibandingkan orang normal saat mengalami luka atau cedera.
Penyakit ini bersifat turun-temurun dan sempat populer sebagai "penyakit kerajaan" karena dialami oleh keluarga kerajaan di Eropa pada abad ke-19.
Dosen FK-KMK UGM Bambang Ardianto menjelaskan bahwa ada beberapa tanda klinis yang sering menjadi pintu masuk diagnosis hemofilia.
Hemofilia sering kali terdeteksi saat anak laki-laki menjalani sunat, tetapi perdarahannya tidak kunjung berhenti. Hal serupa bisa terjadi pada luka akibat cedera ringan.
Gejala khas lainnya berupa bengkak pada sendi besar, seperti lutut atau pergelangan kaki. Hal ini bisa dipicu oleh aktivitas sederhana, misalnya berdiri terlalu lama saat upacara sekolah.
Selain itu, munculnya lebam kebiruan tanpa sebab yang jelas atau setelah benturan ringan.
Menurut dokter Bambang, tantangan terbesar saat ini bukan hanya pada deteksi dini, melainkan juga akses pengobatan. Meski sebagian besar pasien sudah ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), distribusi fasilitas kesehatan yang memiliki spesialis hematologi masih belum merata.


















































