jpnn.com, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) tengah merancang pembangunan infrastruktur logistik yang komprehensif.
Hal itu dilakukan dalam upaya menjadikan program MBG sebagai fondasi jangka panjang bagi ketahanan pangan nasional dan pembangunan sumber daya manusia berkualitas.
Infrastruktur mencakup gudang pangan dan cold storage (ruang pendingin) di berbagai wilayah sentra produksi pangan, didukung oleh MBG Command and Control Center sebagai pusat kendali digital.
Ketua Umum APPMBGI Abdul Rivai Ras menyatakan keberhasilan program MBG tidak cukup hanya pada penyajian makanan bergizi di dapur, melainkan harus dibangun di atas fondasi logistik yang tangguh, higienis, dan berbasis prinsip keberlanjutan.
“Program MBG adalah proyek strategis nasional yang menyentuh jutaan anak bangsa. Untuk itu, kita tidak boleh hanya mengandalkan pendekatan konvensional. Kita perlu menerapkan konsep food supply chain management yang terintegrasi, di mana cold chain logistics menjadi elemen krusial untuk meminimalkan food loss, menjaga kualitas gizi, serta mewujudkan sistem pangan yang resilien di tengah tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan,” ujar Abdul Rivai.
Menurutnya, penguatan infrastruktur ini sejalan dengan pemikiran teoritis ketahanan pangan modern yang menekankan bahwa keamanan pangan (food security) bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga aksesibilitas, stabilitas pasokan, dan pemanfaatan nutrisi yang optimal, sebagaimana kerangka empat pilar FAO yang diperkaya dengan dimensi keberlanjutan dan ketahanan terhadap gangguan iklim serta disrupsi rantai pasok.
APPMBGI memprioritaskan pembangunan gudang pangan dan cold storage di wilayah-wilayah sentra produksi bahan pangan utama, seperti sentra perikanan, hortikultura, dan pertanian. Tujuannya adalah menjaga kesegaran bahan baku, terutama produk mudah rusak seperti ikan segar, sayuran, dan buah, sebelum diolah di ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
Fasilitas cold storage ini akan menerapkan cold chain logistics yang terkontrol suhu, sehingga dapat memperpanjang masa simpan bahan pangan, mengurangi post-harvest loss yang di Indonesia masih cukup tinggi, serta menjamin standar keamanan pangan dan mutu gizi yang konsisten dari hulu hingga hilir (farm-to-table atau ocean-to-table).






















































