jatim.jpnn.com, SURABAYA - Wakil Wali Kota Surabaya Armuji mengakui kekhilafannya saat menyebut pihak yang mengusir nenek Elina Widjajanti (80) mengenakan atribut organisasi Madura Asli Sedarah (Madas).
Armuji mengatakan pernyataan tersebut tidak didasari niat mendiskreditkan organisasi mana pun, terlebih setelah dipastikan bahwa atribut yang dikenakan bukanlah milik Madas.
Pengakuan itu disampaikan Armuji saat pertemuan dan mediasi yang berlangsung di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, Selasa (6/1).
Dalam kesempatan itu, Armuji menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pengurus Madas, tokoh masyarakat Madura, serta warga Surabaya secara umum.
“Ini sebenarnya seperti reuni bagi saya, bisa kembali sambang ke kampus Unitomo yang penuh kenangan,” ujar Armuji.
Armuji menjelaskan peristiwa bermula saat dirinya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi rumah Nenek Elina setelah menerima banyak laporan masyarakat.
Menurutnya, isu tersebut lebih dulu viral di media, salah satunya melalui pemberitaan televisi lokal, sebelum dirinya turun langsung ke lapangan.
“Telepon saya terus berdering, laporan masuk bertubi-tubi maka saya datang ke lokasi. Saya minta korban, keluarga, serta RT dan RW dihadirkan agar persoalan jelas,” jelasnya.



















































