jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Fenomena tanah ambles atau sinkhole kembali melanda Kabupaten Gunungkidul, tepatnya di Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang pada 7 Januari 2026. Menanggapi peristiwa tersebut, Guru Besar Geologi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Wahyu Wilopo menjelaskan bahwa kejadian ini merupakan fenomena alamiah yang kerap terjadi di kawasan karst, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Menurut Wahyu, wilayah Gunungkidul didominasi oleh batuan gamping yang memiliki sifat mudah larut oleh air.
Proses pelarutan ini secara perlahan membentuk rongga-rongga di bawah permukaan tanah.
"Amblesan di Gunungkidul ini masuk kategori sinkhole kecil dan bukan hal yang mengejutkan. Hampir setiap tahun, khususnya saat musim hujan, kejadian serupa muncul di kawasan karst," ujar Wahyu, Senin (19/1/2026).
Faktor lain yang mempercepat terjadinya amblesan, yaitu tingginya suplai air permukaan. Area persawahan atau lokasi dengan drainase yang buruk lebih rentan.
Keberadaan septic tank di sekitar pemukiman dapat mempercepat pelarutan batuan gamping karena air limbah yang terus meresap ke dalam tanah.
Wahyu memperingatkan adanya potensi rongga bawah tanah yang saling terhubung atau berlapis (multi-layer) sehingga amblesan bisa merembet ke titik lain.
Terkait niat warga untuk segera menguruk lubang tersebut, Prof Wahyu memberikan peringatan keras.

















































