jpnn.com - Peneliti senior Citra Institute, Efriza menyatakan ada kepentingan pragmatis politik di balik partai politik yang mendukung Presiden Prabowo Subianto menjabat selama dua periode.
Dia menjelaskan yang mendukung Prabowo dua periode itu disinyalir punya kepentingan yang berbeda dengan yang hanya mendukung pemerintahan Prabowo sampai 2029 saja.
Bagi parpol yang mendukung Prabowo dua periode, kata Efriza, cenderung kurang bisa dipercaya. Sebab, mereka punya keinginan agar popularitas dan elektabilitas partainya bisa terdongkrak lewat pernyataannya sekaligus keinginannya agar kadernya bisa menjadi cawapres.
"Seperti PAN dan PKB. Contoh saja, PKB malah membelot mendukung Anies Baswedan, begitu juga PAN yang sering kali tidak solid mendukung Prabowo seperti pada 2009, 2014, dan 2024 lalu," kata Efriza kepada JPNN.com, Jumat (13/2).
Dia menyebutkan dukungan dua periode ditengarai tidaklah berorientasi pada stabilitas dan kesinambungan kepemimpinan, tetapi “kegenitan” politik semata di ruang publik.
Di sisi lain, Efriza menilai Golkar, Demokrat, PKS, dan NasDem dirasakan lebih rasional dengan mendukung pemerintahan Prabowo hingga 2029.
"Terkait dukungan di Pilpres mereka lebih berhati-hati, karena mempertimbangkan dinamika politik, dan menjaga ruang manuver bila terjadi perubahan konstelasi," kata Efriza.
Dia juga menyebutkan keempat partai ini berdasarkan beberapa kali Pilpres, punya pengaruh kuat untuk menentukan pasangan calon, seperti NasDem dan PKS yang punya pengaruh atas pasangan AMIN pada 2024 lalu.




















































