Kemarau Melanda Jakarta, DPRD Minta Sarana Pencegahan Kebakaran Diperiksa

3 hours ago 18
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yukike di Gedung DPRD DKI Jakarta. Foto. DPRD DKI Jakarta.

KabarJakarta.com — Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkuat langkah pencegahan kebakaran di tengah kondisi kemarau yang melanda Ibu Kota. Pemeriksaan sarana pemadam dan kesiapsiagaan masyarakat dinilai penting karena kondisi lingkungan yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.

Yuke mengatakan, seluruh fasilitas yang berkaitan dengan pencegahan dan penanganan kebakaran perlu dipastikan dalam kondisi siap digunakan. Pemeriksaan itu mencakup hidran, alat pemadam api ringan (APAR), hingga perlengkapan keselamatan lainnya.

“Kami minta seluruh sarana pencegahan kebakaran diperiksa kembali. Mulai dari alat pemadam api ringan, hidran, serta perlengkapan keselamatan lainnya harus dipastikan tersedia hingga berfungsi dengan baik,” kata Yuke di Jakarta, Rabu (2/9).

Menurut dia, pemeriksaan APAR juga tidak cukup hanya memastikan keberadaannya. Kondisi dan masa berlaku alat tersebut harus diperhatikan agar dapat berfungsi ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Yuke menilai pencegahan kebakaran bukan hanya menjadi tugas petugas pemadam kebakaran. Masyarakat, pengelola gedung, pengurus lingkungan, hingga pemilik usaha juga memiliki peran dalam mengurangi potensi munculnya api.

Risiko demikian semakin perlu diperhatikan, karena kebakaran tidak hanya mengancam keselamatan warga dan merusak lingkungan. Asap yang dihasilkan juga dapat memperburuk kualitas udara Jakarta.

“Dengan terjadinya kebakaran hutan di mana-mana, kita kan enggak ingin Jakarta menjadi penyumbang polusi juga,” ujar Yuke.

Larangan membakar sampah

Yuke secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan selama musim kemarau. Sampah yang dibakar di lahan terbuka berpotensi menimbulkan api yang sulit dikendalikan, terutama ketika kondisi tanah dan vegetasi di sekitarnya kering.

“Ini sangat riskan kebakaran loh. Tidak boleh ada aktivas membakar sampah dan lain-lain di tengah kemarau,” tegas Yuke.

Ia menyebut persoalan sampah yang belum sepenuhnya terselesaikan turut menjadi salah satu pemicu munculnya praktik pembakaran sampah secara ilegal. Lahan kosong yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah terkadang dibakar untuk mengurangi tumpukan.

Namun, cara tersebut justru dapat menimbulkan persoalan baru. Api yang awalnya kecil bisa dengan cepat menjalar ke area lain dan membahayakan permukiman maupun fasilitas di sekitarnya.

“Meskipun kondisinya memang lagi mendesak, tolong yang kayak gitu waspada, jangan dilakukan. Karena begitu api muncul, itu cepat banget. Mana kita tahu api akan aman atau enggak,” katanya.

Pemprov siagakan personel

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin kegiatan Apel Jaga Jakarta, sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau panjang dan fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027.

Pemprov DKI menyiagakan 1.027 personel serta 29 mobil tangki air bersih sebagai bentuk antisipasi dari berbagai dampak kekeringan. Pemerintah juga mengantisipasi penurunan kualitas udara dan meningkatnya risiko kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat.

Tidak hanya itu, layanan darurat 112 bersama PAM Jaya juga disiapkan untuk membantu masyarakat yang terdampak kondisi kemarau.

Pramono juga meminta perangkat daerah meningkatkan pengawasan dan mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat. Masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak, mewaspadai potensi korsleting listrik, serta menjaga lingkungan dari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, kewaspadaan menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran meluas. Pemeriksaan fasilitas pemadam, pengawasan lingkungan, dan perubahan kebiasaan masyarakat diharapkan dapat menekan risiko kebakaran di Jakarta.

Read Entire Article
| | | |