jabar.jpnn.com, BANDUNG BARAT - Wajah Asep Heri tampak letih. Garis-garis kelelahan dan kegelisahan bercampur menjadi satu di raut pria berusia 45 tahun asal Ciwidey, Kabupaten Bandung itu.
Sejak tiga hari terakhir, ia nyaris tak beranjak dari lokasi longsor Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Di tempat itulah harapannya bergantung untuk satu nama yang terus ia sebut dalam doa, Tasya.
Di tengah perjuangan tim SAR Gabungan yang terus berjibaku dengan tanah, lumpur, dan sisa puing rumah, Asep memilih turun langsung.
Tangan Asep ikut menggali, matanya tak henti menatap setiap jengkal tanah. Ia tak ingin sekadar menunggu. Ia ingin menemukan putri tercintanya, apa pun yang terjadi.
Memasuki hari ketiga pencarian, Senin (26/1/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, alam seakan kembali menguji keteguhan hati para pencari. Hujan turun, kabut menebal, dan proses evakuasi terpaksa dihentikan sementara.
Di sela jeda itu, Asep duduk terpaku di sebuah kebun kecil tak jauh dari Sektor A1. Segelas kopi panas ia tenggak perlahan, bukan untuk mengusir dingin, melainkan untuk menguatkan diri agar tak runtuh.
Di balik upaya pencariannya, kegelisahan tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Hingga hari ketiga, Tasya belum juga ditemukan. Namun, di tengah kepasrahan, Asep menggenggam harapan terakhir yaitu mukjizat.
“Iya, saya terjun langsung mau nyari anak saya yang belum ditemukan,” ucapnya lirih.



















































