bali.jpnn.com, JIMBARAN - Gubernur Wayan Koster secara pribadi prihatin dengan langkanya anak-anak di Bali yang memiliki nama Nyoman (anak ketiga) dan Ketut (anak keempat).
Pasalnya, kelangkaan tersebut akan mempengaruhi kelestarian budaya.
Saat ini penduduk dengan nama depan Ketut atau anak keempat hanya tersisa 4,5 persen dari total penduduk Bali yang sebanyak 4,4 juta orang.
Oleh karena itu, Gubernur Koster terus menggaungkan pelestarian anak Nyoman dan Ketut.
Pemprov Bali bahkan tahun ini ia berencana memulai pemberian insentif bagi pemilik nama tersebut.
“Kalau tidak kita dorong ini yang paling pertama punah Ketut, tidak sampai 50 tahun lagi Ketut ini tinggal di museum.
Kemudian Nyoman yang kedua terancam karena saat ini paling banyak itu adalah anak pertama (Putu/Wayan/Gede) persentasenya paling tinggi 39 persen.
Jadi, ini gambaran buruk demografi Bali,” ujar Koster saat tampil sebagai pembicara pada Diskusi Publik “Sang Pewahyu Rakyat” oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana, di Auditorium Widya Sabha, Jimbaran, Badung, Rabu (18/2).













































