jpnn.com, JAKARTA - Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah perlu mengintervensi pelemahan rupiah dengan strategi kebijakan yang taktis dan terukur.
BI diperkirakan akan terus melakukan intervensi ganda, baik di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dengan memanfaatkan cadangan devisa yang saat ini berada di kisaran USD 148 miliar.
Selain itu, meski suku bunga acuan masih ditahan di level 4,75 persen, ruang untuk penyesuaian moneter tetap terbuka apabila inflasi impor mulai mengganggu stabilitas domestik.
“Sementara pemerintah perlu memperketat disiplin fiskal guna menjaga kepercayaan investor jangka panjang,” ujar Sutopo, Kamis (23/4).
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah pada Kamis siang, pukul 13.32 WIB, melemah 123 poin atau 0,72 persen menjadi Rp 17.304 per USD, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.181 per USD.
Pelemahan itu dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal yang kuat dan kerentanan domestik.
Sutopo menjelaskan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait blokade Selat Hormuz, telah mendorong kenaikan harga energi global dan inflasi yang kemudian memperkuat dolar AS sebagai aset aman (safe haven).
Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi di tengah tingginya harga minyak dunia, diikuti dengan arus modal keluar (capital outflows) akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko turut menekan nilai tukar rupiah.









.jpeg)











































