jateng.jpnn.com, SEMARANG - Hujan deras yang turun tanpa jeda selama berhari-hari di lereng Gunung Slamet sempat memicu kekhawatiran publik.
Tidak sedikit warga yang menuding aktivitas penambangan sebagai biang keladi longsor yang melanda wilayah Kabupaten Pemalang dan Purbalingga.
Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan tudingan tersebut tidak berdasar.
Pemprov Jateng menegaskan bencana tanah longsor di sejumlah titik lereng Gunung Slamet murni dipicu faktor alam, bukan akibat aktivitas penambangan.
Kepastian ini diperoleh setelah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah melakukan tinjauan lapangan serta kajian teknis.
Kepala Dinas ESDM Jateng Agus Sugiharto mengatakan pihaknya secara rutin melakukan mitigasi bencana dengan menyampaikan informasi potensi gerakan tanah kepada seluruh bupati dan wali kota di Jawa Tengah setiap bulan, khususnya saat memasuki musim penghujan.
“Informasi ini berbasis data ilmiah, hasil overlay peta rawan longsor dengan prakiraan cuaca dan curah hujan dari BMKG,” ujar Agus, Rabu (28/1).
Menurutnya, setiap bulan Dinas ESDM merilis peta potensi gerakan tanah lengkap dengan tabulasi curah hujan serta tingkat kerawanan, mulai dari rendah hingga tinggi. Peta tersebut disebarluaskan sebagai peringatan dini agar pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan.

















































