Ilustrasi - Perawat mengecek infus seorang pasien Tuberkulosis(TBC) yang sedang dirawat di RSUD Doris Sylvanus, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (13/3/2020). Foto: ANTARA
KabarJakarta.com – Upaya menemukan dan mengobati pasien tuberkulosis (TB) terus dilakukan Pemerintah Kota Jakarta Barat. Hingga awal September 2026, sebanyak 7.378 pasien TBC telah ditemukan dan mendapat pengobatan.
Kepala Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Barat, dr. Sahruna, mengungkapkan angka tersebut merupakan hasil penanganan sejak 1 Januari hingga 3 September 2026.
“Pada periode 1 Januari hingga 3 September 2026, cakupan penemuan dan pengobatan kasus Tuberkulosis telah mencapai 7.378 pasien,” kata Sahruna di Jakarta, Kamis (4/8).
Angka tersebut diperoleh setelah petugas memberikan pelayanan kepada 52.677 orang yang masuk kategori terduga TB. Dari proses pemeriksaan itu, ribuan pasien kemudian dipastikan mengidap TBC dan masuk dalam program pengobatan.
Capaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang cukup besar dibandingkan data pada pertengahan April. Per 15 April 2026, jumlah kasus yang telah ditemukan baru mencapai 3.027 kasus.
Meski demikian, pekerjaan belum selesai. Sudinkes Jakarta Barat masih harus mengejar target penemuan sebanyak 11.955 kasus TB sepanjang 2026.
Sahruna menjelaskan jumlah kasus yang ditemukan masih berpotensi meningkat. Hal itu sejalan dengan semakin luasnya kegiatan deteksi dini yang dilakukan petugas kesehatan bersama masyarakat di lapangan.
“Temuan kasus TB diproyeksikan akan terus bertambah, seiring dengan upaya deteksi dini di lapangan,” ujarnya.
Menjemput kasus di lapangan
Untuk memperluas penemuan pasien, Sudinkes Jakarta Barat menggunakan dua pendekatan, yakni penemuan kasus secara aktif dan pasif.
Penemuan aktif dilakukan dengan mendatangi atau menjangkau masyarakat melalui skrining kesehatan. Salah satunya memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kader TB juga dilibatkan untuk membantu menemukan warga yang memiliki gejala atau berisiko terkena TBC.
Sementara itu, penemuan secara pasif dilakukan ketika masyarakat yang mengalami keluhan atau gejala TB datang sendiri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk menjalani pemeriksaan.
Kedua cara tersebut menjadi penting karena TB merupakan penyakit menular yang membutuhkan penanganan cepat. Semakin dini seseorang diketahui mengidap TB, semakin cepat pula pengobatan dapat diberikan dan risiko penularan kepada orang lain bisa ditekan.
Setiap fasilitas kesehatan di Jakarta Barat juga menerapkan prosedur diagnostik untuk memastikan pasien mendapat pemeriksaan yang tepat. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui pemeriksaan dahak maupun radiologi atau X-ray sesuai dengan indikasi medis.
Bukan sekadar menemukan pasien
Penanganan TB tidak berhenti setelah seseorang dinyatakan positif. Pasien yang masuk dalam cakupan pengobatan mendapat perawatan sesuai standar yang berlaku.
Petugas juga melakukan pemantauan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara berkala. Langkah ini penting karena pengobatan TB membutuhkan kedisiplinan agar pasien dapat sembuh dan risiko munculnya masalah akibat pengobatan yang tidak tuntas dapat ditekan.
Selain pasien, orang-orang yang tinggal atau sering melakukan kontak erat dengan pasien TB turut diperiksa. Mereka yang dinyatakan sehat tetapi memiliki risiko terpapar dapat diberikan Terapi Pencegahan TB (TPT).
Upaya tersebut menjadi bagian penting untuk memutus rantai penularan. Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada orang yang sudah sakit, tetapi juga melindungi orang-orang di sekitarnya.
Edukasi untuk mencegah penularan
Di sisi lain, Sudinkes Jakarta Barat terus memperkuat pencegahan melalui promosi kesehatan. Masyarakat diberikan edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk cara menerapkan etika batuk dan pentingnya menjaga kesehatan.
Imunisasi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan. Informasi mengenai gejala TB dan akses layanan kesehatan terus disebarkan agar masyarakat tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami keluhan yang mengarah pada penyakit tersebut.
Capaian 7.378 kasus hingga 3 September menjadi langkah penting bagi Jakarta Barat dalam mengejar target tahun ini. Namun, angka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pencarian kasus harus terus dilakukan.
Bagi Sudinkes Jakarta Barat, menemukan pasien bukan sekadar mengejar angka. Setiap kasus yang ditemukan berarti ada satu orang yang mendapat kesempatan untuk segera menjalani pengobatan sekaligus mengurangi potensi penularan kepada orang lain.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Jakarta Barat untuk mendukung target eliminasi TB di DKI Jakarta pada 2030.

5 hours ago
23

















































