jateng.jpnn.com, TEMANGGUNG - Musim tanam tembakau di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksi dimulai antara Maret hingga April 2026. Namun, para petani di kota penghasil tembakau ini khawatir tak bisa menanam.
Ketua Dewan Perwakilan Cabang Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPC APTI) Temanggung Siyamin mengatakan hal ini tak terlepas dari kepungan dan dorongan regulasi pertembakauan yang berdampak langsung pada sumber penghidupan petani.
Salah satunya Rekomendasi Batas Maksimal Kadar Tar dan Nikotin yang saat ini tengah dirancang oleh Tim Penyusun Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (KemenkoPMK).
Dorongan untuk menurunkan kadar tar dan nikotin tembakau sesuai standar WHO jelas berefek negatif pada komoditas perkebunan petani
"Ini menyulitkan petani. Kami melawan. Dorongan regulasinya itu-itu saja dan ini bukan yang pertama, sudah pernah belasan tahun lalu," ujar Siyamin, akhir pekan lalu.
Tembakau Temanggung terkenal memiliki kadar nikotin yang tergolong tinggi, umumnya berkisar antara 3 persen hingga 8 persen. Karakteristik khas ini menjadikan tembakau Temanggung sangat aromatis dan bernilai tinggi sebagai bahan baku utama dalam industri rokok kretek, memberikan rasa dan aroma yang kuat.
"Pembatasan ini sangat merugikan petani. Itu kan karakteristik natural tanamannya,"ujarnya.
Berkaca pada produktivitas tahun lalu, luas lahan tanaman tembakau yang ditanam para petani hingga akhir tanam tahun ini pada kisaran 13-14 ribu hektare.

















































