jpnn.com - ISTANBUL - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak mengulangi “kesalahan” konfrontasi militer sebelumnya. Dia pun menegaskan bahwa Iran tetap siap menempuh diplomasi.
“Pesan saya, jangan ulangi kesalahan yang Anda buat pada Juni,” kata Abbas Araghchi kepada Fox News, Rabu, merujuk serangan AS ke tiga fasilitas nuklir Iran dalam perang Iran-Israel selama 12 hari.
Dia menegaskan bahwa fasilitas bisa dihancurkan. Namun, tegas dia, teknologi tidak bisa dibom. “Tekad juga tidak bisa dibom,” ungkap Araghchi menanggapi ketegangan terbaru dan sikap Washington terhadap Teheran.
Araghchi mengatakan Iran tidak memiliki pengalaman positif dengan Amerika Serikat, namun jalur perundingan tetap lebih disukai. “Iran telah membuktikan siap bernegosiasi, siap berdiplomasi,” katanya.
Araghchi menuding Washington berulang kali meninggalkan diplomasi selama dua dekade terakhir. “Antara perang dan diplomasi, diplomasi lebih baik, meski pengalaman kami dengan AS tidak positif,” ungkapnya.
Terkait kerusuhan terbaru di Iran, Araghchi mengeklaim pemerintah menerapkan “penahanan diri maksimal”. Namun, dia menegaskan bahwa aksi protes itu telah dibajak oleh pelaku kekerasan.
Ditanya soal jumlah pengunjuk rasa yang tewas, dia menyebut pelaku kekerasan bukan demonstran sejati, melainkan “sel teror” yang didorong oleh “rencana Israel”.
“Elemen teroris dari luar memasuki protes dan menembaki polisi serta aparat keamanan,” katanya, seraya menyebut terjadi pertempuran selama tiga hari melawan teroris.





















































