jateng.jpnn.com, SEMARANG - Meilankolia, sebuah pertunjukan yang dibawa oleh kolektif seni Meramu: Dapur Pertunjukan disajikan dalam agenda peringatan 28 Tahun Tragedi Mei 1998 di di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Senin (25/5).
Dalam jejak ingatan yang diselenggarakan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) ini judul Meilankolia dipilih sebagai simbol peringatan tragedi kerusuhan lepasnya Orde Baru.
Sang sutradara, Nila Dianti mengatakan penggabungan kata Melankolia berarti sedih berlebihan atau frustasi. Kedua pengertian ini menjadi sebuah rangkuman pertunjukan yang ditampilkan.
"Naskah Meilankolia ditulis berdasarkan data dan riset tentang tragedi Mei 98 yang berfokus pada pemerkosaan perempuan etnis Tionghoa," kata Nila kepada JPNN.com, Kamis (28/5).
Riset pustaka dan lapangan dilakukan dari awal 2026 oleh seluruhnya yang terlibat dalam proses ini. Nila menyebut proses ini berfokus pada sikap penghilangan sejarah Mei 98 oleh pemerintah.
Nila mengatakan bentuk pertunjukan Meilankolia yang merupakan alih wahana dari wacana Tragedi Mei 1998 itu, kemudian diangkat sebagai simbol monumen ingatan yang terus dirawat oleh Meramu: Dapur Pertunjukan di dua pentas sekaligus.
Sebelum di TIM, pentas telah digelar dalam peringatan Hari Teater Dunia 2026 di Dewan Kesenian Semarang (Dekase) pada Minggu (24/5).
Sementara itu, dalam pertunjukan sebelumnya, Meramu sudah mementaskan tentang perempuan etnis Tionghoa berjudul Bunga Kecombrang pada Desember 2025. Lalu pertunjukan Memoar Jus Jeruk, hingga Pesta Kesedihan dengan simbolik mi panjang umur. Dan, Meilankolia digagas sebagai puncak fragmen wacana tersebut.



















































