jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menyoroti polemik pencoretan siswi SMA Cathlyn Yvaine Lesmana dari daftar seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Cathlyn sebelumnya disebut lolos di peringkat ketiga seleksi provinsi. Namun, namanya mendadak hilang dari daftar akhir peserta dan digantikan oleh peserta lain.
Kasus tersebut viral di media sosial dan memicu kritik terhadap mekanisme seleksi yang dinilai tidak transparan. Publik mempertanyakan proses penilaian hingga pengumuman akhir peserta yang lolos menuju tingkat nasional.
Muslim Arbi menilai polemik tersebut tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang ikut dalam proses seleksi Paskibraka.
Menurut dia, publik berhak mempertanyakan objektivitas seleksi apabila peserta yang sebelumnya dinyatakan lolos justru dicoret tanpa penjelasan terbuka.
“Kasus Cathlyn ini memunculkan tanda tanya besar di publik. Bagaimana mungkin peserta yang sudah lolos dan berada di peringkat atas tiba-tiba dicoret lalu diganti peserta lain. Ini menimbulkan dugaan adanya proses yang tidak transparan,” kata Muslim Arbi kepada wartawan, Rabu (27/5).
Dia menegaskan BPIP sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam pembinaan ideologi seharusnya menjaga profesionalitas dan objektivitas dalam proses seleksi Paskibraka.
“BPIP jangan sampai dipersepsikan publik sebagai lembaga yang sarat kepentingan politik. Seleksi Paskibraka harus objektif, profesional, dan bersih dari intervensi,” ujarnya.






















































