jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Kabar duka yang menyelimuti Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), atas meninggalnya seorang anak berusia 10 tahun akibat bunuh diri, telah memicu gelombang keprihatinan nasional. Peristiwa tragis ini diduga kuat dipicu oleh tekanan beban biaya sekolah yang tidak mampu ditanggung keluarga.
Kejadian ini bukan sekadar tragedi personal, tetapi dianggap sebagai alarm keras atas ketimpangan akses pendidikan di Indonesia.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Andreas Budi Widyanta menilai peristiwa ini sebagai bentuk nyata kegagalan struktural negara. Menurutnya, negara telah lalai dalam memenuhi mandat konstitusi untuk melindungi dan menjamin pendidikan bagi setiap anak bangsa.
"Kasus ini merupakan akumulasi tekanan sosial akibat kegagalan negara menyediakan layanan dasar yang merata. Ketimpangan ekonomi yang kian lebar memaksa sebagian masyarakat hidup dalam kondisi ekstrem hingga tak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan dasar," ujar Andreas, Kamis (5/2).
Lebih lanjut, Andreas menjelaskan bahwa pilihan fatal yang diambil oleh anak tersebut merupakan sebuah "bahasa kegelapan".
Hal ini terjadi ketika seorang anak kehilangan ruang untuk mengekspresikan kecemasan dan harapannya terhadap masa depan.
Anak merasa tidak lagi memiliki hari esok yang cerah karena hambatan ekonomi.
Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dinilai belum mampu menjadi ruang dialogis yang inklusif.

















































