jatim.jpnn.com, JAKARTA - Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’shum Faqih mengajak seluruh elemen Nahdlatul Ulama (NU) atau Nahdliyin menjaga persatuan, ketenangan, serta menjunjung tinggi adab dan akhlakul karimah menjelang Muktamar ke-35 NU.
Gus Ma’shum mengatakan Muktamar NU harus menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan konsolidasi jam’iyah, bukan menjadi arena saling menjatuhkan melalui pembentukan opini, fitnah, maupun narasi yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah warga NU.
"Jangan membuat warga NU resah dengan membangun opini yang menjatuhkan, menyebarkan fitnah, apalagi menggunakan cara-cara yang tidak beradab. Perbedaan pandangan dalam organisasi adalah hal yang biasa, tetapi adab dan akhlak tidak boleh ditinggalkan," kata Gus Ma’shum dalam keterangannya di Jakarta, Senin (24/8).
Anggota Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, itu mengingatkan NU merupakan jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang dibangun para ulama dan kiai dengan landasan khidmah.
Menurut dia, orientasi utama ber-NU semestinya bukan perebutan kekuasaan, posisi, maupun kepentingan politik.
"Kita ini tidak sedang berebut posisi atau jabatan politis. Kita sedang berkhidmah untuk umat. Kalau niat kita benar-benar khidmah, maka tidak perlu saling menjatuhkan, apalagi mengorbankan persaudaraan hanya karena berbeda pilihan atau pandangan," ujarnya.
Gus Ma’shum menegaskan dinamika menjelang Muktamar merupakan hal yang wajar dalam organisasi sebesar NU. Perbedaan gagasan, pilihan, maupun pandangan mengenai masa depan organisasi, kata dia, harus ditempatkan dalam koridor musyawarah dan tradisi pesantren yang mengedepankan penghormatan kepada sesama.
Dia juga meminta seluruh pihak menahan diri dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, media sosial jangan dijadikan ruang untuk menyerang kehormatan pribadi, menyebarkan tuduhan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, atau membangun persepsi negatif terhadap sesama kader dan pengurus NU.



















































