jatim.jpnn.com, SURABAYA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Kota Surabaya) mencatat sejak Januari hingga Februari 2026 telah menangani 43 laporan ular masuk ke permukiman warga. Jumlah tersebut meningkat seiring masuknya musim hujan.
Ketua Tim Kerja Operasional Kedaruratan BPBD Kota Surabaya Arif Sunandar mengatakan, sepanjang 2026 pihaknya menerima total 81 laporan penanganan satwa, dan lebih dari separuhnya adalah ular.
“Sepanjang 2026 ada sekitar 81 laporan satwa liar, mulai dari ular, buaya, iguana, biawak, monyet, anjing, hingga kucing. Dari jumlah itu, 43 laporan adalah ular,” ujar Arif, Rabu (11/2).
Menurut Arif, jenis ular yang paling sering dievakuasi adalah ular sanca. Satwa tersebut kerap ditemukan di lokasi yang tidak terduga.
“Biasanya ditemukan di plafon rumah, lemari, kamar mandi, belakang lemari, selokan, kandang ayam, dan tempat lainnya,” terangnya.
Dia menjelaskan setelah satu laporan ular ditangani, biasanya tidak berselang lama akan muncul laporan serupa di wilayah yang sama. Hal itu karena ular sanca mampu berkembang biak dalam jumlah besar.
“Ular sanca sekali bertelur bisa sampai ratusan. Jadi, kalau ada satu laporan di suatu daerah, biasanya beberapa waktu kemudian muncul laporan lagi di lokasi yang sama,” ungkapnya.
Faktor geografis Surabaya juga menjadi penyebab seringnya ular masuk permukiman. Kota ini dilalui sejumlah sungai besar seperti Kalimas dan Kali Surabaya.

















































