jateng.jpnn.com, KENDAL - Set sebuah rumah sekaligus warung makan menyambut penonton di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (24/1) malam.
Sorot lampu kian menerangi latar pertunjukan teater berjudul Air Mata Dupa produksi Teater Atmosfer ini. Ilustrasi musik menjadi pengiring sandiwara berdurasi sekitar satu jam tersebut.
Ahmad Sofyan Hadi, sutradara teater ini menyebut Air Mata Dupa yang merupakan karyanya sendiri berangkat dari realitas sosial saat ini. Kendaraan stigma dan prasangka modern terhadap sosok dukun menjadi sorotan utama dalam pertunjukan ini.
Produksi Teater Atmosfer ini mengajak publik meninjau ulang makna dukun dalam perspektif sejarah dan kebudayaan, yang sejatinya tidak selalu identik dengan praktik gaib atau klenik.
“Cerita ini dimulai, setelah seorang dukun bernama Jarwo menikahi janda yang baru saja ditinggal mati suaminya,” ujar Ian, sapaan karibnya kepada JPNN.com.
Namun, justru berita-berita miring tentang pernikahan Jarwo selalu dihubung-hubungkan dengan kematian suami dari janda tersebut.
Konflik makin menguat melalui tokoh Lastri, anak dari janda tersebut yang tengah hamil dan ditinggal merantau suaminya ke luar negeri.
Lastri menolak menerima Jarwo sebagai ayahnya dan meyakini bahwa kematian beberapa anggota keluarganya adalah ulah Jarwo.

















































