jatim.jpnn.com, SURABAYA - Ratusan massa yang tergabung dalam Masyarakat Sipil Surabaya menggelar Aksi Kamisan ke-899 di depan Gedung Negara Grahadi, Kamis (26/2) sore.
Mereka berdiri berjejer di seberang Gedung Negara Grahadi sambil memegang payung hitam, poster, spanduk bernada protes, serta bingkai foto Arianto Tawakal (14), siswa MTs Negeri Maluku Tenggara yang tewas akibat dugaan kekerasan oleh anggota Polri di Tual, Maluku.
Dalam orasinya, massa aksi menuntut agar aparat yang diduga terlibat diproses hukum secara adil.
“Kami berharap mereka mendapatkan hukuman yang setimpal. Bukan berarti nyawa dibalas nyawa, tetapi aparat kepolisian yang membunuh Arianto Tawakal dan korban-korban sebelumnya setidaknya ditegakkan hukum agar diadili seadil-adilnya,” kata salah satu orator.
Perwakilan massa aksi Zaldi Maulana menyebut kematian Arianto menambah daftar panjang dugaan pembunuhan di luar proses hukum (extrajudicial killing) yang menyasar masyarakat sipil, termasuk anak-anak.
Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan kegagalan institusi kepolisian dalam menjalankan fungsi perlindungan terhadap masyarakat.
“Sekali lagi, pembunuhan di luar hukum terhadap anak terjadi lagi. Arianto Tawakal, seorang siswa di Tual, Maluku, tewas dipukul menggunakan helm hingga bersimbah darah di tangan anggota Polri,” ujar Zaldi.
Dia menilai slogan Reformasi Polri akan sulit dipercaya jika kekerasan terhadap warga, terlebih anak-anak, masih terus terjadi.

















































