bali.jpnn.com, DENPASAR - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Bali memprakirakan adanya potensi musim kemarau ekstrem di Pulau Dewata.
Kondisi ini dipicu oleh fenomena El Nino yang menyebabkan durasi kemarau menjadi lebih panjang dan udara lebih kering.
Wilayah yang diprediksi paling rawan terdampak meliputi Bali bagian utara (Kabupaten Buleleng dari barat hingga timur), Pulau Nusa Penida, serta Kabupaten Klungkung bagian selatan.
"Munculnya fenomena El Nino lemah pada periode Juli hingga Oktober sangat berpotensi memicu kekeringan panjang atau ekstrem," ujar Prakirawan Stasiun Klimatologi Bali, Trayi Budi Samantu, dilansir dari Antara.
Berdasarkan hasil analisis, musim kemarau 2026 di Bali diprakirakan lebih panjang dibandingkan 2025, yakni mulai Dasarian I Maret terjadi di Pulau Nusa Penida.
Kemudian disusul Dasarian II Maret, kemarau mulai masuk di wilayah Gianyar bagian selatan, Klungkung bagian selatan, dan Karangasem bagian selatan.
Daerah di Bali yang diprakirakan kemarau paling akhir adalah Bali bagian tengah hingga puncaknya 100 persen Bali sudah kemarau pada Agustus atau berdurasi total sekitar enam bulan sejak Maret 2026.
Pada 2025, musim kemarau lebih pendek, yakni terjadi pada Juni-Juli hingga berakhir Agustus-September atau sekitar empat bulan.






.jpeg)











































