Beraktivitas di rumah saja selama pandemi COVID-19 mempengaruhi perilaku konsumen di Indonesia termasuk dalam hal berbelanja. Mereka kebanyakan melakukan pembelian secara online. Foto: Pixabay
KabarJakarta.com — Pandemi COVID-19 pernah mengubah cara masyarakat berbelanja secara drastis. Aktivitas yang sebelumnya banyak dilakukan secara langsung perlahan berpindah ke layar ponsel. Berbelanja kebutuhan sehari-hari, mencari produk, hingga melakukan pembayaran dapat dilakukan tanpa harus keluar rumah.
Namun, setelah lebih dari 5 (lima) tahun berlalu sejak pandemi, kebiasaan tersebut mulai menemukan bentuk baru. Masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kanal daring atau online. Belanja secara langsung atau offline kembali mendapatkan tempat.
Pola itu menunjukkan bahwa perjalanan perilaku konsumen ternyata tidak bergerak lurus dari toko fisik menuju dunia digital. Kini, keduanya justru mulai berjalan berdampingan.
Pakar pemasaran sekaligus Managing Partner Inventure Indonesia Yuswohady mengungkapkan, perubahan tersebut merupakan bagian dari proses alami perilaku konsumen setelah mengalami percepatan digitalisasi selama pandemi.
“Kalau sebelum pandemi itu kan memang secara natural sudah terjadi shifting dari offline ke online. Kemudian pandemi itu mempercepat, hampir memaksa, sehingga terjadi boom,” kata Yuswohady di Jakarta, Sabtu (5/9).
Pandemi mempercepat perubahan
Sebelum pandemi, penggunaan layanan digital dalam aktivitas belanja sebenarnya sudah berkembang. Kehadiran berbagai platform perdagangan elektronik membuat masyarakat mulai terbiasa mencari dan membeli barang melalui internet.
Akan tetapi, pandemi membuat perubahan itu berlangsung jauh lebih cepat. Pembatasan aktivitas masyarakat dan kekhawatiran terhadap penularan penyakit membuat belanja secara daring menjadi pilihan utama.
Dalam situasi tersebut, masyarakat yang sebelumnya jarang menggunakan layanan digital ikut beradaptasi. Berbagai kebutuhan mulai dicari melalui platform daring, sementara pembayaran digital semakin sering digunakan.
Fenomena tersebut kemudian berlangsung selama beberapa tahun. Kanal online semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari kebiasaan konsumen.
Namun, menurut Yuswohady, kondisi itu kini mulai berubah.
“Sekarang ini, menurut saya waktunya. Karena kan, sudah 5 tahun lebih ya. Itu mulai antara offline dan online itu sudah mulai bertemu ke titik keseimbangan (ekuilibrium),” ujarnya.
Kembali ke pola yang natural
Keseimbangan tersebut tidak berarti masyarakat meninggalkan kanal digital. Sebaliknya, online tetap menjadi pilihan penting karena menawarkan kemudahan, kecepatan, serta keleluasaan dalam membandingkan berbagai produk.
Di sisi lain, belanja secara langsung juga memiliki pengalaman yang sulit sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Konsumen dapat melihat barang secara fisik, mencoba produk tertentu, berinteraksi dengan penjual, sekaligus merasakan suasana tempat berbelanja.
Karena itu, konsumen kini semakin fleksibel dalam menentukan cara berbelanja. Pilihan kanal dapat disesuaikan dengan kebutuhan, jenis produk, waktu, maupun pengalaman yang ingin diperoleh.
Yuswohady menilai perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan perilaku konsumen tidak selalu berlangsung secara linear.
“Kalau dulu kan, kayak orang ke online semua. Tetapi sekarang ini, menurut saya, sudah mulai natural terbentuk ekuilibrium antara offline dan online,” kata dia.
Konsumen tak harus memilih
Perubahan itu sekaligus menandai berakhirnya anggapan bahwa masa depan belanja hanya berada di dunia digital. Setelah mengalami lonjakan penggunaan online selama pandemi, masyarakat justru mulai menggabungkan kedua pengalaman tersebut.
Konsumen bisa mencari informasi produk melalui internet, kemudian membelinya langsung di toko. Sebaliknya, seseorang juga dapat melihat barang di gerai fisik sebelum akhirnya melakukan transaksi secara daring.
Pola semacam itu memperlihatkan bahwa batas antara online dan offline semakin cair. Keduanya bukan lagi dua pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan saluran yang dapat saling melengkapi.
Bagi pelaku usaha, perubahan tersebut menjadi sinyal penting. Strategi menghadapi konsumen tidak cukup hanya dengan memperkuat kehadiran digital atau mempertahankan toko fisik. Pengalaman belanja yang menghubungkan kedua kanal justru menjadi semakin relevan.
Pada akhirnya, perjalanan belanja masyarakat setelah pandemi bukan tentang siapa yang menang antara online dan offline. Yang terbentuk adalah pola baru ketika keduanya hidup berdampingan.
Setelah melewati fase belanja serba digital, konsumen kini tampaknya kembali pada pilihan yang lebih sederhana: menggunakan kanal yang paling sesuai dengan kebutuhan.

5 hours ago
32
















































