jpnn.com, JAKARTA - Apa yang terjadi sebelum telur sampai ke meja makan, serta kaitannya dengan kesehatan konsumen, kesejahteraan hewan, dan tanggung jawab korporasi, menjadi fokus pameran imersif Beyond the Cage yang akan berlangsung pada 5-7 September 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Melalui karya seni, cerita, dan pengalaman imersif, pameran yang digelar oleh Act For Farmed Animals (AFFA) ini membawa persoalan yang selama ini berada jauh dari pandangan konsumen ke ruang publik.
Pengunjung diajak melihat lebih dekat bagaimana sistem produksi telur bekerja sebelum produknya sampai ke meja makan, restoran, hotel, toko roti, dan berbagai bisnis pangan.
Dalam sistem kandang sempit atau kandang baterai, ayam petelur dipelihara berkelompok di dalam kandang kawat selama masa produksi. Materi AFFA mencatat area yang tersedia bagi setiap ayam sekitar 450 sentimeter persegi, lebih kecil dari luas selembar kertas A4.
Keterbatasan tersebut membuat ayam sulit melakukan berbagai perilaku alaminya, seperti mengepakkan sayap sepenuhnya, bertengger, mandi debu, membuat sarang, bergerak, dan bersosialisasi.
RSPCA mencatat bahwa sistem kandang membatasi ayam petelur untuk melakukan sejumlah perilaku alami, termasuk bersarang, bertengger, mencari pakan, dan mandi debu.
Persoalan ini menjadi salah satu alasan AFFA terus mendorong peralihan dari sistem kandang baterai menuju sistem cage-free.
Pembicaraan mengenai kandang ayam petelur tidak berhenti pada kesejahteraan hewan. Sejumlah penelitian juga melihat hubungan antara sistem pemeliharaan ayam petelur, Salmonella, dan keamanan pangan.






















































