jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Massa Aksi Damai Cik Di Tiro menyayangkan pihak kepolisian yang membangun narasi bahwa mahasiswa membawa cairan merica saat berunjuk rasa di Simpang Empat Gramedia, Jalan Sudirman, Selasa (1/9).
Menurut mereka, botol yang diduga polisi sebagai cairan merica itu adalah peralatan paramedis berisi campuran air dan Mylanta untuk menetralisir gas air mata.
"Intinya ini tidak lebih air dan larutan Mylanta yang dicampur karena sejauh ini di beberapa aksi sebelumnya cukup terbukti bisa membantu meredakan efek perih dari gas air mata," kata salah satu anggota paramedis.
Mereka pun menyangkal informasi yang menyebutkan bahwa botol tersebut berisi cairan merica.
Selain itu, kekerasan yang dialami massa aksi juga menjadi sorotan. Pada aksi kemarin, setidaknya ada enam mahasiswa yang terluka sehingga harus mendapatkan perawatan medis.
Ketua Umum Serikat Mahasiswa (Sema) Universitas Gadjah Mada (UGM) Bintang Mesa dan rekan-rekannya menuntut Polda DIY mengusut seluruh tindakan kekerasan yang dialami massa aksi.
Menurutnya, unjuk rasa yang berlangsung hingga malam hari tersebut diwarnai tindak kekerasan dari sekelompok ormas.
"Kami turut menuntut Kapolda DIY mengadakan konferensi pers yang berisi permintaan maaf terkait brutalitas dan keterlibatan ormas, serta pembiaran aparat kepolisian," kata Mesa.
Selanjutnya, Polda DIY diminta mengakui kesalahan karena telah menyebut massa aksi menyemprotkan cairan merica.



















































