jpnn.com, ASMAT - Masyarakat Asmat di Papua Selatan memiliki cerita tersendiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Salah satunya ialah dari bagaimana mobilitas masyarakat setempat yang berbeda dengan warga di kota-kota lainnya di Papua maupun di Indonesia.
Saat mengunjungi Asmat, JPNN menyadari di Agats, ibu kota Asmat tak terdengar riuh mesin motor maupun mobil bersahutan. Tak ada polusi suara yang mengganggu telinga. Hal ini karena masyarakat Asmat hanya memakai kendaraan listrik, bukan yang berbahan bakar minyak (BBM).
Asmat disebut sebagai Kota Seribu Papan karena semua jalanan berupa jembatan kayu maupun baja ringan yang saling berhubungan. Ini karena Asmat merupakan wilayah yang dikelilingi rawa-rawa sehingga hanya bisa dilalui melalui jembatan yang terhubung ke semua sisi kota tersebut.
Oleh karena itu, kendaraan yang cocok digunakan di tipikal jalanan Asmat ialah motor listrik yang lebih ringan untuk dikendarai.
Masyarakat Asmat bukan baru kali pertama ini mencoba motor listrik. Pada 2007, motor listrik sudah mulai diperkenalkan dan dimanfaatkan masyarakat di Asmat sebagai alat transportasi.
Jauh sebelum masyarakat di kota-kota besar di Pulau Jawa berbondong-bondong mengendarai kendaraan listrik tersebut.
Sulitnya distribusi BBM menuju Asmat menjadi salah satu alasan, masyarakat mengendarai motor listrik untuk memudah mobilitas dan aktivitas. Selain motor listrik, masyarakat juga memanfaatkan perahu untuk bepergian, termasuk untuk kebutuhan ke kampung-kampung di pulau lainnya.
“Pemda juga tidak mau ada polusi udara, jadi memang semuanya pakai motor listrik atau kalau tidak, kami berjalan kaki. Cuma ya capek juga kalau jalan kaki keliling Agats ini,” ujar Merry, salah satu warga Agats pada JPNN.





















































