jpnn.com - LIMA tahun terakhir adalah periode ketika ekonomi Indonesia belajar berjalan lebih cepat, bukan hanya karena pemulihan pascapandemi, tetapi karena sebuah perubahan yang lebih mendasar, cara kita memproduksi nilai.
Disrupsi ekonomi digital menggeser pusat gravitasi ekonomi dari aset fisik menuju data, dari toko ke layar, dari transaksi tunai ke jejak digital. Ia bukan sekadar kisah kemajuan teknologi, melainkan juga kisah politik, tentang siapa yang menguasai infrastruktur, siapa yang memegang data, dan siapa yang mampu mengubah akses digital menjadi produktivitas.
Namun, di tengah berbagai kegelisahan tentang ketimpangan dan dominasi platform, ada fakta yang tidak bisa diabaikan, ekonomi Indonesia tetap bergerak dengan daya tahan yang mengesankan.
Setelah terpukul pada 2020, pertumbuhan ekonomi berbalik menguat pada 2021 dan 2022, lalu relatif stabil di kisaran 5 persen pada 2023–2024.
Pada 2025, ritme itu berlanjut, dengan ekonomi triwulan III 2025 tumbuh 5,04 persen (yoy). Stabilitas pertumbuhan ini penting, karena menjadi panggung bagi transformasi digital berlangsung tanpa mengguncang fondasi makro secara berlebihan.
Di atas panggung yang relatif stabil itulah, ekonomi digital tumbuh. Laporan tahunan e-Conomy SEA, yang selama satu dekade menjadi barometer Asia Tenggara, memproyeksikan nilai transaksi ekonomi digital Indonesia mendekati GMV 100 miliar dolar AS pada 2025, didorong oleh video commerce, layanan keuangan digital, media digital, dan adopsi AI. Ini bukan sekadar kenaikan angka. Ini penanda bahwa digitalisasi telah bergerak dari “pelengkap” menjadi mesin utama dalam konsumsi, distribusi, dan pembiayaan.
Di sisi paling bawah dari mesin itu, UMKM berdiri sebagai aktor yang sering disebut, tetapi tidak selalu dipahami. UMKM bukan hanya simbol ekonomi kerakyatan. Ia adalah struktur ekonomi itu sendiri. Dalam berbagai rujukan pemerintah, UMKM menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional, dan kontribusinya pada perekonomian sangat besar.
Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan “apakah UMKM masuk ekonomi digital”, melainkan “apakah ekonomi digital membuat UMKM naik kelas, atau sekadar memindahkan aktivitas lama ke kanal baru tanpa peningkatan produktivitas”.



.jpeg)












































