jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad mengkritik keras kebijakan pendanaan riset tahun anggaran 2026 yang diumumkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada 9 April 2026 lalu.
Habib menilai alokasi anggaran sebesar Rp1,7 triliun jauh dari ekspektasi publik yang sebelumnya menangkap sinyal peningkatan hingga Rp12 triliun.
“Ini anti-klimaks. Kita bicara penguatan riset untuk Indonesia Emas 2045, tetapi anggarannya justru sangat minim. Ini seperti anemia anggaran yang bisa melumpuhkan inovasi,” kata Habib Syarief dalam keterangan tertulisnya kepada JPNN.com, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Habib pun membandingkan anggaran tersebut dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebutnya mencapai Rp1,2 triliun per hari.
“Dana riset setahun hanya setara sekitar 1,5 hari program MBG. Kita mendukung pemenuhan gizi, tetapi jangan sampai negara mengalami rabun jauh intelektual,” tegasnya.
Selain soal anggaran, Habib Syarief juga menyoroti perubahan pola pengumuman penerima hibah yang dinilai tidak transparan. Tahun ini, daftar penerima tidak dipublikasikan secara terbuka seperti sebelumnya.
“Ini kemunduran serius. Transparansi adalah prinsip dasar. Kalau hasil seleksi tidak dibuka, bagaimana publik bisa melakukan kontrol?” ujarnya.
Menurutnya, ketertutupan tersebut berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap tata kelola riset nasional.



















































