jabar.jpnn.com, BANDUNG BARAT - Wajah penuh harap terpancar dari Yati Rohati (47) saat mendatangi Kantor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (25/2/2026).
Di tengah keterbatasan yang kini ia jalani, dua bungkus telur yang diterimanya dari para donatur menjadi penyambung hidup bagi dirinya dan keluarga.
Bantuan tersebut diserahkan petugas kecamatan kepada Yati dan sejumlah warga lain yang terdampak bencana longsor Cisarua yang terjadi pada 24 Januari 2026.
Sejak peristiwa itu, kehidupan Yati berubah drastis. Rumah sekaligus lahan perkebunan bunga hias miliknya lenyap disapu longsor. Kini, ia bersama suami dan dua anaknya harus tinggal di rumah kontrakan dan bergantung pada bantuan dari pemerintah serta donatur.
Adapun untuk bertahan, Yati mengandalkan bantuan dana dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang harus ia kelola sehemat mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidup dua bulan ke depan.
“Alhamdulillah sudah bisa menerima keadaan. Sekarang saya sama suami dan anak ngontrak rumah. Soalnya rumah kan habis sama longsor,” ujar Yati.
Namun, luka batin belum sepenuhnya pulih. Ia sesekali terisak saat mengingat peristiwa yang merenggut nyawa tetangga dan anggota keluarganya. Suasana Ramadan yang biasanya hangat bersama keluarga besar kini terasa berbeda dan penuh kesedihan.
“Seperti sekarang bulan puasa, biasanya bareng-bareng sama keluarga besar, sekarang berpencar. Tarawih juga biasanya bareng, sekarang enggak bisa. Kalau harta hilang masih bisa dicari, tapi kumpul sama keluarga yang jadi korban itu yang paling sedih,” ucapnya lirih.

















































