jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Indonesia menghadapi tantangan besar dalam manajemen transportasi urban. Berdasarkan data terbaru pada 2025, jumlah kendaraan di tanah air telah menembus angka fantastis, yakni 172,9 juta unit.
Dengan pertumbuhan rata-rata 4,5 persen per tahun, kemacetan bukan lagi sekadar hambatan perjalanan, melainkan ancaman serius bagi produktivitas nasional.
Dalam webinar bertajuk "Mengurai Kemacetan Kota dengan Artificial Intelligence" pada Selasa (28/4), Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan memaparkan data yang mengkhawatirkan. Tingkat kemacetan di lima kota besar Indonesia rata-rata mencapai 54,9 persen.
Menurut dia, dampak dari kepadatan ini sangat nyata bagi masyarakat dan negara. Rata-rata pengemudi kehilangan 118 jam per tahun akibat terjebak macet.
Di Jakarta saja, kemacetan memicu kerugian hingga Rp 77 triliun atau setara dengan 2,2 persen dari GDP Jakarta.
Pengendalian lalu lintas statis dinilai sudah tidak relevan lagi untuk merespons dinamika kendaraan secara real time.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya transformasi menuju sistem transportasi berbasis data dan terintegrasi,” katanya.
Pemerintah kini mulai bergeser dari manajemen konvensional menuju Intelligent Transportation Systems (ITS). Salah satu terobosan yang disiapkan adalah penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dan Large Language Models (LLM) untuk mengatur arus lalu lintas.


















































