jpnn.com, JAKARTA - Ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir telah mendorong volatilitas harga berbagai komoditas strategis, mulai dari energi hingga logam mulia.
Kondisi ini memperkuat kebutuhan akan mekanisme perdagangan yang transparan serta instrumen lindung nilai yang mampu membantu pelaku pasar mengelola risiko secara lebih terukur.
Di tengah memanasnya situasi geopolitik, turut mendorong penguatan peran perdagangan berjangka sebagai bagian dari infrastruktur pasar yang mendukung pembentukan harga yang efisien serta memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor dalam menghadapi dinamika global.
Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta Yazid Kanca Surya menyampaikan di tengah tekanan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, pelaku pasar makin membutuhkan instrumen yang mampu memberikan perlindungan terhadap risiko sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.
“Dalam kondisi pasar yang semakin tidak pasti, kebutuhan terhadap mekanisme lindung nilai menjadi semakin relevan. Perdagangan berjangka hadir sebagai instrumen yang transparan, terstandarisasi, dan mendukung pembentukan harga yang kredibel di pasar,” ujar Yazid.
Sejalan dengan itu, JFX juga terus mendorong penguatan ekosistem perdagangan yang lebih transparan, terawasi, dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi seluruh pelaku pasar.
Dari sisi kinerja, sejumlah produk unggulan JFX menunjukkan kontribusi signifikan terhadap aktivitas perdagangan. Pada sektor komoditas fisik, JFX menguasai lebih dari 95% pangsa pasar ekspor timah Indonesia, dengan nilai transaksi mencapai sekitar USD 1,7 miliar pada 2025.
Sementara itu, pada perdagangan derivatif, kontrak olein (OLE01) mencatat kontribusi sebesar 38,7% dari total volume transaksi Exchange Traded Derivatives (ETD) JFX atau setara dengan 615.028 lot. Di sisi lain, kontrak Loco Gold juga mendominasi aktivitas transaksi OTC dengan porsi mencapai 85,2% dari total volume.




















































