jpnn.com, JAKARTA - Puluhan kapal nelayan Cilincing bersama masyarakat pesisir bergerak dalam satu iring-iringan damai di pinggir perairan Teluk Jakarta pada Selasa, 14 April 2026.
Aksi ini bukan sekadar demonstrasi, tetapi seruan hidup dari mereka yang selama ini terpinggirkan, terdesak, dan perlahan dihapus dari ruang yang telah mereka jaga turun-temurun.
“Kami adalah masyarakat pesisir dan nelayan. Kami adalah penjaga pesisir. Kami adalah saksi hidup dari laut yang dahulu memberi, namun kini makin dirampas atas nama Pembangunan,” ujar Sekretari Jendral (Sekjen) Kongres Aliansi Nelayan Teluk Jakarta (KANAL Teluk Jakarta) Rahmat Legowo dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, nelayan dan masyarakat pesisir menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kebijakan dan proyek-proyek besar lebih berpihak pada kepentingan modal dibandingkan keberlangsungan hidup masyarakat pesisir dan nelayan.
“Ruang tangkap kami menyempit. Akses kami dibatasi. Lingkungan kami rusak dan suara kami diabaikan,” tegas Rahmat Legowo.
Adapun pernyataan sikap Kampung Nelayan Cilincing dan Masyarakat Pesisir sebagai berikut:
- Kami tidak menolak pembangunan. Kami menolak ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.
- Kami menolak kebijakan yang:




















































