Kesepakatan Damai Iran-Amerika Gagal, GREAT Institute: AS Inkonsistensi

1 day ago 19

 AS Inkonsistensi

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Kesepakatan damai Amerika - Iran gagal, Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa mengatakan itu karena AS selama ini Inkonsisten terkait pengembangan senjata nuklir. Foto dokumentasi GREAT Institute,

jpnn.com, JAKARTA - Kesepakatan damai Amerika-Iran yang berlangsung di Pakistan, gagal.

Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan, Iran menolak meninggalkan program senjata nuklir

GREAT Institute menilai penolakan Iran lantaran selama ini dinilai inkonsisten terkait pengembangan senjata nuklir. 

Alih-alih melakukan pelucutan senjata nuklir sejak NPT ditandatangani 1968, negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat terus memperkaya uranium untuk senjata nuklir dan menyebarkan teknologi itu kepada negara-negata sekutunya. 

Bahkan Israel yang tidak menandatangani NPT bebas memiliki hulu ledak nuklir dan menjadi bully di kawasan.

"Dengan situasi ini, saya kira wajar kalau negara-negara yang merasa rentan terhadap serangan AS dan sekutu merasa harus mengembangkan persenjataan serupa sebagai faktor pencegah," kata Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa dalam keterangannya kepada media, Senin (13/4).

Dia menambahkan bila negara-negara Barat boleh menerjemahkan doktrin si vis pacem para bellum dengan meningkatkan kapasitas militer termasuk senjata pemusnah massal, maka negara-negara lain yang tidak mau jadi korban dari agresivitas negara-negara superpower akan mendorong diri mereka untuk memiliki kapasitas serupa," urai dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu.

Teguh melanjutkan, selama ini, sebagai negara yang menandatangani dan meratifikasi NPT Iran mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai, yang merupakan satu dari tiga pilar NPT.

Kesepakatan damai Amerika - Iran gagal, Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa mengatakan itu karena AS selama ini Inkonsisten

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |