jateng.jpnn.com, SEMARANG - Di antara deretan ruko dan hiruk-pikuk kawasan Pecinan Semarang, berdiri sebuah bangunan kecil yang nyaris tersembunyi. Ukurannya sederhana, tak mencolok di tengah padatnya aktivitas kota. Namun, Kelenteng Siu Hok Bio menyimpan jejak panjang sejarah.
Di tempat itulah Lie Gei Hong menghabiskan sebagian besar hidupnya.
Pada usia sekitar 80 tahun, Ketua Yayasan Kelenteng Siu Hok Bio itu masih datang hampir setiap hari. Dia mengatur kegiatan, menyapa pengunjung, sekaligus memastikan kelenteng tetap terawat.
“Ini bukan hanya kelenteng. Ini tempat kenangan,” ujarnya, Selasa (17/2).
Lie merupakan saksi hidup perubahan kehidupan masyarakat Tionghoa di Semarang. Dia tumbuh pada masa ketika ruang budaya dan identitas belum sebebas sekarang.
Masa kecilnya diwarnai perpindahan sekolah akibat situasi sosial dan politik yang berubah cepat pada era 1960-an. Dia pernah belajar di sekolah berbahasa Mandarin dan Melayu. Namun, kondisi saat itu membuat banyak sekolah terpaksa ditutup.
“Sekolahnya bubar. Kami harus pindah. Bahkan sekolah saya pernah dibakar,” kenangnya.
Peristiwa tersebut membuat banyak anak kehilangan kesempatan belajar secara normal. Ruang pendidikan, bahasa, dan budaya menjadi terbatas.

















































