Kisah Pura Pat Payung: Simbol Perlindungan & Toleransi di Jantung KEK Kura Kura

3 weeks ago 7

Jumat, 27 Maret 2026 – 16:06 WIB

 Simbol Perlindungan & Toleransi di Jantung KEK Kura Kura - JPNN.com Bali

Pura Pat Payung yang ada sejak 200 tahun lalu berdiri kokoh di kawasan KEK Kura-Kura Bali. Foto: Source for JPNN

bali.jpnn.com, DENPASAR - Nuansa hening dan magis Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 masih menyimpan kesan mendalam di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.

Area yang biasanya berdenyut dengan aktivitas pembangunan, sejenak berhenti total sebagai bentuk penghormatan terdalam bagi tradisi luhur Pulau Dewata.

Keheningan ini bukan sekadar mengikuti aturan, melainkan momen bagi manajemen PT Bali Turtle Island Development (BTID) untuk kembali "pulang" ke akar budaya.

Kesan sunyi dan teduh pasca-Nyepi ini pun masih terasa di delapan Pura peninggalan leluhur yang berada dalam pelukan kawasan ini.

Kepala Departemen Komunikasi KEK Kura Kura Bali Zefri Alfaruqy menegaskan bahwa pihaknya benar-benar menghormati tradisi Nyepi sebagai fondasi spiritual kawasan.

"Di KEK Kura Kura Bali, kami meyakini bahwa kemajuan hanya akan berarti jika ia berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap akar budaya Bali.

Astungkara, pelaksanaan Nyepi beberapa waktu lalu di KEK Kura Kura Bali bisa berjalan dengan baik," ujar Zefri.

Delapan Pura yang masih berdiri tegak tak lekang oleh zaman di kawasan Kura Kura Bali, yakni Pura Pat Payung, Pura Taman Harum, Pura Batu Api, Pura Batu Kerep, Pura Puncakin Tingkih, Pura Tirta Harum, Pura Tanjung Sari, dan Pura Beji.

Kesan sunyi dan teduh pasca-Nyepi ini pun masih terasa di delapan Pura peninggalan leluhur yang berada di kawasan KEK Kura-kura Bali

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Bali di Google News

Read Entire Article
| | | |